Bisnis Kuliner

Ternyata bisnis kuliner itu ndak bisa dilepas ya, Mas…”

Keluh kesah itu saya dengar Akhir bulan Mei kemarin, katarsis – istilah psikologinya. Seorang teman dari wonogiri, menyampaikan unek-unek hatinya, menceritakan kondisi bisnis yang digelutinya tiga tahun lalu. Alih-alih berhasil usahanya, untuk bertahan satu tahun saja sangat sulit.

Sebenarnya, dia sudah bekerja di salah satu bank ternama di Wonogiri. Dengan harapan bisa menambah penghasilan, ia mencoba membuka bisnis kuliner di Yogyakarta. Tepatnya, di utara kebun binatang Gembira Loka .

Hampir seratus juta dia gelontorkan untuk memenuhi kebutuhan bisnis kuliner itu. Selain untuk sewa tempat, peralatan masak, meja kursi, papan nama, dan beberapa iklan media ternyata uang segitu dirasakan masih sangat minim untuk “dicakke”. Sehingga, warungnya juga biasa-biasa saja dengan tampilan yang secukupnya. Modal kerjanya pun juga sangat pas-pasan.

Hari demi hari, bulan demi bulan, ternyata bisnis kuliner yang dia harapkan akan menambah penghasilan malah berlaku sebaliknya. Penjualan juga tidak kunjung ramai, walaupun voucher gratis sudah disebar. Kelakuan karyawan yang tidak jujur pun membuat dia semakin sibuk untuk wira-wiri Wonogiri – Jogja, di tengah kesibukannya bekerja di bank yang sudah sangat menguras energinya.

Sebenarnya yang mempunyai keluhan serupa dalam bisnis kuliner bukan hanya teman saya. Saya yakin, ada banyak. Adanya ungkapan: BISNIS KULINER ITU ENAK, …..UNTUNGYA HARIAN, membuat mereka berani menceburkan diri dalam bisnis ini. Tetapi, mungkin mereka lupa, bahwa hal yang sebaliknya bisa juga terjadi: RUGINYA HARIAN. Alias tiap hari rugi, rugi, dan rugi.

Berapa banyak bisnis kuliner yang gulung tikar ketika baru berjalan dua tahun. Atau, mungkin setahun. Atau, bahkan, baru tiga bulan tutup. Sangat.. banyak!

Tetapi, mengapa setiap bulan selalu ada satu, dua atau lebih, tempat kuliner baru bermunculan bak jamur di musim hujan? Yang kemudian, tidak lama pula akan berguguran seperti daun yang rontok di musim kemarau.

Apa yang salah? Apa karena tidak laku? Atau, tidak diminati konsumen? Padahal, di awal-awal buka, kebanyakan tempat kuliner baru itu diserbu pelanggan.

Hati-hati bisnis tren…

Sahabat embun masih ingat, bisnis-bisnis yang beberapa waktu yang lalu sempat ngetren? Wartel, Counter Hape, Warnet, Laundry, semua bisnis ini sangat cepat pertumbuhannya. Bermula dari kota-kota besar sampai akhirnya masuk ke gang-gang kecil di pedesaan. Seolah, ini peluang bagus yang harus ditangkap oleh pebisnis. Tetapi, pada kenyataannya, berapa banyak kita temui bisnis-bisnis itu yang semakin besar?

Kuliner…

Wah… betapa menggiurkan ya, bisnis ini.. Hingar bingar televisi, terutama yang meliput kuliner, seperti tidak ada habisnya. Berbagai tempat kuliner yang menawan, menu-menu yang unik senantiasa diliput dan ditawarkan sedemikian rupa. Tentunya dilengkapi pula dengan itung-itungan laba yang sangat menggiurkan. Sehingga, membius pemirsa untuk mengikutinya.

Bagi pecinta makanan, tempat-tempat itu akan diserbu. Bagi pebisnis, wah…, ide baru nih! Mereka akan segera membuat kalkulasi untuk buka di daerah masing-masing dengan harapan akan mendapat bagian kue rejeki, yang baru “lezat” di dunia kuliner.

Siapa yang tidak kepengen mendapat tambahan penghasilan? Sebagaimana yang dikemukakan teman saya di atas. Asal beli resep, punya modal, beres…

Ssst….

Hati-hati… Bisnis kuliner sepertinya mudah, tetapi sebenarnya sulit sekali dijalankan. Minimal, kita harus mengetahui prinsip-prinsip yang wajib dimiliki dalam bisnis kuliner.

Rasa

Reza Syarif, seorang supertrainer, pernah menyampaikan sebuah resep bisnis kuliner kepada saya, satu tahun yang lalu. Bahwa, filosofis bisnis kuliner adalah RASA. Sebagaimana, filosofis produk kesehatan adalah khasiat. Sehebat apapun tempat, kalo rasa masakannya biasa-biasa saja pasti akan ditinggalkan konsumennya. Sebaliknya, jika rasa masakannya cocok di lidah, tempat kuliner yang berada di lokasi yang tersembunyi sekalipun pasti akan dicari.

Wallohu’alam bisshowab.

Konsultasi bisnis (gratis) : 0817440065

Ditulis oleh: Bambang Winarno (Owner Obat Herbal Al Biruni dan Bakso Tengkleng Mas Bambang)

One Response to Bisnis Kuliner

  1. madya yuni santosa says:

    bisnis kuliner… yes……………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Site Meter